Baduy di Akhir Pekan
Belajar dari Kehidupan Masyarakat Baduy
Pasti sudah pernah tahu kan dengan objek wisata Baduy yang berada di Lebak, Banten. Melalui blog ini saya akan bercerita tentang pengalaman saya melihat lebih dekat kehidupan masyarakat Baduy.
Kehidupan masyarakat Baduy yang masih
teguh memegang tradisi leluhur dan lokasinya yang asri di daerah terpencil
hingga kini tetap menjadi daya tarik bagi para wisatawan. Kawasan wisata Baduy
yang terletak di Provinsi Banten ini selalu ramai dikunjungi wisatawan lokal
bahkan mancanegara, khususnya di akhir pekan.
Membludaknya pelancong berwisata ke desa masyarakat
adat Baduy ini kian hari kian bertambah,
apalagi pada akhir pekan dan hari libur sekolah. Sudirman, pemandu wisata
mengatakan biasa para pengunjung akan bertambah pada akhir pekan. “Kalau akhir pekan pengunjung bisa mencapai
200-300 orang dan kebanyakan pengujung ini adalah anak sekolah (SLTA) dan mahasiswa dan
rombongan perjalanan wisata,”jelasnya.
Selain menikmati indahnya pemandangan alam sekitar
yang memanjakan mata, pada umumnya para pelajar dan mahasiswa ini melakukan
beragam penelitian. Seperti diketahui masyarakat Baduy dikenal sebagai
salah satu suku yang masih sangat teguh memang tradisi nenek moyang. Hal ini
bisa dilihat dari perilaku sehari-hari maupun tradisi ritual yang masih mereka
jaga hingga saat ini
“Biasanya mereka melakukan berbagai penelitian untuk
tugas sekolah atau kampusnya. Penelitannya sih macem-macem ada seputar
pertanian, sosiologi dan lainnya,” tutur
pria yang menjadi pemandu wisata sejak beberapa tahun lalu ini.
12 Jam Jalan
Kaki untuk Bisa Sampai di Baduy Dalam
Perkampungan adat Baduy terdiri dari
Baduy Dalam dan Baduy Luar. Baduy Dalam terletak di kawasan gunung Kandengan, Kanekes
yang meliput tiga desa yakni Cikeusik, Cikertawana dan Cibeo. Orang Kanekes
atau Baduy Dalam benar-benar terisolir dari hiruk pikuk kemajuan teknologi,
bahkan mereka tidak mengenal baca tulis.
Untuk memasuki kawasan wisata adat Baduy Dalam, terlebih dahulu para
pengunjung akan melewati route tiga desa Baduy luar, mulai dari desa Balimbing,
Montange kemudian Gajebo.
Dari Balimbing menuju Gajebo membutuhkan perjalanan waktu
sekitar setengah sampai satu jam. Sedangkan untuk tiba di Baduy Dalam harus melintasi jembatan di desa Gajebo. Sebuah jembatan gantung dari
bambu yang melintasi sungai Ciujung. Para wisatawan yang akan melanjutkan perjalanan ke
Baduy Dalam
membutuhkan waktu tempuh sekitar 12 jam.
Akses dari
Jakarta Semakin Mudah Sejak ada KRL
Kawasan wisata Baduy yang terletak Kecamatan Lewidamar,
Kabupaten Lebak Banten, berjarak 120 km dari Jakarta dan dapat ditempuh dengan
berkendara menggunakan kendaraan umum
atau pribadi.
Dari jalan tol Jakarta – Merak keluar di pintu Balaraja
Barat mengambil arah Rangkasbitung menuju Leuwidamar langsung ke Ciboleger.
Membutuhkan waktu sekitar 1 – 1,5 jam untuk tiba sampai di Ciboleger dari
Rangkasbitung yang berjarak 40 km.
Sekarang, akses ke Baduy semakin
mudah dengan adanya kereta KRL dari Stasiun Tanah Abang ke Stasiun
Rangkasbitung, selain lebih murah, waktu tempuh juga menjadi lebih cepat. Denga n kemudahan transportasi ini, semakin
banyak wisatawan yang mengunjungi kawasan Baduy.
Lingkungan Tetap Bersih dari Sampah
Di Baduy, khususnya Baduy dalam kita
bisa melihat lebih dekat kehidupan warga masyarakatnya yang masih sangat teguh
memegang tradisi. Banyak hal positif yang bisa diambil tentunya, di tengah
memudarnya nilai-nilai moral dalam sendi kehidupan akibat pengaruh globalisasi
dan kemajuan zaman.
Masyrakat Baduy menggantungkan
hidupnya dari hidup bercocok tanam, dan
menjual kerajinan tangan yang mereka bawa ke luar wilayah mereka atau kepada
parawisatawan sebagai cinderamata.
Kita bisa melihat lebih dekat
kemahiran menenun yang ditunjukkan para wanita baik di Baduy Dalam maupun Baduy
Dalam. Hampir di semua rumah terdapat alat tenun tradisional.
Menenun adalah kegiatan rutin para ibu dan
remaja putri yang berada di desa ini desa Balimbing, Motengge dan
Gajebo yang
termasuk kawasan Baduy Luar. Ada lima jenis corak
tenun yang dihasilkan dari tiga desa ini yaitu
seuat, poleng, aros, adu mancung dan jamang. Untuk memproduksi
tenun ukuran 2 m kali 1m dibutuhkan waktu satu minggu.
Kegiatan menenun ini dilakukan kaum wanita dari pagi hingga sore hari.
Disela-sela waktu senggang kaum laki-lakinya menemani sambil memainkan seruling
dan kecapi. Suasana ini yang selalu dinantikan pengunjung saat sejumlah
masyarakat adat Baduy memetik dawai kecapi dan alunan seruling mengalun.
Menjamur
Kios-Kios
Di Baduy luar terdapat banyak
kios-kios yang menjual hasil pangan dan kerajinan tangan warganya yang biasa
dijadikan oleh-oleh untuk dibawa pulang para wisatawan. Selain itu, kios-kios
juga menjual makanan, minuman dan lainnya. Kebutuhan ekonomi membuat masyarakat
adat ini
merubah pola pikir yang semula hanya bertani dan membuat gula aren bagi kaum laki-lakinya, kini mereka juga
berdagang.
Yang patut di contoh dari masyarakat
adat Baduy ini adalah lingkunngan mereka yang sangat bersih, walapun
warung-warung sudah menjamur tapi sampah yang disebabkan dari warung ini tidak
terlihat berceceran.
Tempat sambah yang terbuat dari bambu disediakan di
setip rumah warga yang membuka warung.
Selain warung yang menjamur, rumah-rumah masyarakat adat Baduy luar di
tiga desa ini pun bisa dipakai untuk menginap para tamu atau homestay
bagi para wisatawan. Tarif sewa per malam sekitar Rp 100.000,- sampai dengan– Rp 300.000,-
Masih Banyak Lokasi yang Belum
Tereksplor
Baduy merupakan salah satu lokasi wisata yang menjadi
konsentrasi Dinas Pariwisata Provinsi Banten. Selain Baduy, kami juga akan terus
mempromosikan beberapa lokasi wisata yang belum tereksplore seperti, Pintu air
Pamarayan, Tanjug Lesung, Ujung Kulon dan lokasi potensi lainnya yang belum tereksplor secara
maksimal.
Untuk itu, tentunya diharapkan setelah mendapat sentuhan dari pihak
pemerintah setempat lokasi-lokasi wisata itu akan lebih terangkat, sehingga
perkembangan pariwisata di provesi Banten ini dapat menarik wisatawan baik
lokal maupun manca negara.
Komentar
Posting Komentar